Dalam sejarah Islam, nama Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang luar biasa dalam hal kekayaan dan kedermawanan. Ia bukan hanya pengusaha sukses, tetapi juga sosok yang rendah hati, beriman kuat, dan dermawan tanpa batas. Kekayaannya yang melimpah tidak membuatnya sombong, justru menjadi sarana untuk beramal dan membantu perjuangan Islam.
Kisah hidup Abdurrahman bin Auf menjadi teladan bagi setiap Muslim: bagaimana memadukan keberhasilan duniawi dengan ketaatan spiritual, serta menjadikan harta sebagai jalan menuju surga.
Siapakah Abdurrahman bin Auf?
Abdurrahman bin Auf memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin al-Harits bin Zuhrah bin Kilab al-Qurasyi az-Zuhri. Ia termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Sebelum memeluk Islam, nama beliau adalah Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah). Setelah masuk Islam, Rasulullah ﷺ mengganti namanya menjadi Abdurrahman, yang berarti “hamba Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Beliau lahir sekitar 10 tahun setelah Tahun Gajah dan termasuk salah satu sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (Al-‘Asyrah Al-Mubasyyarun bil Jannah).
Perjalanan Masuk Islam
Masuknya Abdurrahman bin Auf ke dalam Islam tidak terlepas dari peran Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat karib Nabi ﷺ. Ketika Abu Bakar menyampaikan dakwah Islam, Abdurrahman langsung tersentuh oleh ajaran tauhid yang murni dan akhlak Rasulullah ﷺ.
Namun, keputusan itu tidak mudah. Sebagai bangsawan Quraisy, ia mendapat tekanan dan boikot dari keluarganya. Meski begitu, Abdurrahman tetap teguh. Ia memilih iman daripada kekayaan, dan rela meninggalkan semua hartanya demi hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin.
Hijrah dan Awal Kehidupan di Madinah
Setelah hijrah, kaum Muhajirin banyak yang tidak memiliki apa-apa. Rasulullah ﷺ kemudian mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari, seorang sahabat kaya dari Madinah.
Sa’ad menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman, tetapi beliau menolak dengan halus dan berkata:
“Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Tunjukkan aku di mana pasar.”
Ucapan itu menunjukkan kepribadian tangguh dan mandiri. Dengan kejujuran dan kerja keras, Abdurrahman memulai usaha di pasar Bani Qainuqa. Dalam waktu singkat, ia menjadi pedagang sukses, namun tetap sederhana dan dermawan.
Keberhasilan dalam Berdagang
Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai pengusaha Muslim pertama yang sukses besar di Madinah. Ia memiliki keahlian luar biasa dalam berdagang tanpa sedikit pun melakukan kecurangan.
Prinsipnya dalam bisnis adalah:
-
Tidak pernah bersumpah palsu.
-
Tidak menimbun barang.
-
Tidak mengambil keuntungan berlebihan.
-
Selalu menepati janji dan amanah.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)
Keberkahan dari kejujuran itu membuat hartanya melimpah. Namun kekayaan tidak membuatnya lalai; ia tetap zuhud, rajin beribadah, dan senantiasa menginfakkan hartanya di jalan Allah.
Kedermawanan Abdurrahman bin Auf
Kedermawanan Abdurrahman bin Auf begitu besar hingga diceritakan dalam banyak riwayat. Dalam Perang Tabuk, beliau menyumbangkan 200 uqiyah emas — jumlah yang sangat besar pada masa itu.
Beliau juga sering membiayai para pejuang Islam, memerdekakan budak, dan membantu janda serta anak yatim. Diriwayatkan bahwa:
“Abdurrahman bin Auf pernah menyedekahkan separuh hartanya.”
(HR. Ahmad)
Dalam kesempatan lain, beliau menyumbang:
-
500 ekor kuda untuk jihad.
-
1500 unta untuk pasukan Islam.
-
Ribuan dinar untuk fakir miskin Madinah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Abdurrahman bin Auf termasuk orang yang Allah limpahkan rezeki kepadanya, dan dia membelanjakannya di jalan Allah.” (HR. Ahmad)
Kedekatan dengan Rasulullah ﷺ
Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau ikut dalam hampir seluruh peperangan besar: Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk, dan lain-lain. Dalam Perang Uhud, beliau bahkan terluka parah, giginya patah, dan kakinya pincang.
Rasulullah ﷺ sangat menghormati Abdurrahman karena keimanannya, amanahnya, dan kedermawanannya. Dalam suatu hadis, Nabi ﷺ bersabda:
“Abdurrahman bin Auf di surga akan merangkak masuk karena banyaknya harta yang harus dihisab.” (HR. Ahmad)
Hadis ini bukan celaan, melainkan peringatan bahwa orang kaya yang saleh tetap akan diuji. Namun, beliau dijamin masuk surga karena hartanya digunakan untuk kebaikan.
Peran Penting dalam Kepemimpinan Islam
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Abdurrahman bin Auf tetap berperan besar dalam pemerintahan Islam. Ia menjadi penasehat utama pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Ketika Khalifah Umar bin Khattab terluka menjelang wafat, beliau membentuk Dewan Syura untuk memilih penggantinya. Salah satu anggotanya adalah Abdurrahman bin Auf. Ia menolak menjadi khalifah dan justru memilih untuk menjadi penengah.
Akhirnya, melalui kebijaksanaannya, Abdurrahman bin Auf yang mengusulkan Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga. Keputusan itu menunjukkan kecerdasan, keikhlasan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap umat.
Wafatnya Abdurrahman bin Auf
Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun 32 H dalam usia sekitar 72 tahun. Ia dimakamkan di Baqi’, Madinah, tempat pemakaman mulia para sahabat Nabi ﷺ.
Sebelum wafat, ia berwasiat agar hartanya disedekahkan untuk kesejahteraan umat Islam. Diriwayatkan bahwa ia meninggalkan warisan besar, termasuk:
-
Ribuan dinar emas.
-
Harta tanah yang luas di Madinah.
-
Ratusan ekor unta dan kuda.
Namun yang paling berharga dari semua itu bukanlah hartanya, melainkan warisan teladan keimanan dan kedermawanan.
Pelajaran Hidup dari Abdurrahman bin Auf
Kisah hidup Abdurrahman bin Auf mengandung banyak pelajaran penting bagi umat Islam masa kini:
-
Kekayaan bukan penghalang menuju surga.
Jika digunakan dengan benar, harta justru bisa menjadi amal jariyah yang abadi. -
Kejujuran dalam bisnis membawa berkah.
Bisnis yang halal dan jujur akan membawa ketenangan dunia akhirat. -
Dermawan tanpa pamrih.
Kedermawanan sejati adalah memberi tanpa mengharapkan imbalan dunia. -
Zuhud bukan berarti miskin.
Seorang Muslim boleh kaya, tetapi hatinya tidak boleh bergantung pada harta. -
Kepemimpinan yang amanah.
Abdurrahman bin Auf menunjukkan bahwa kekuasaan bukan untuk ambisi, tetapi untuk kemaslahatan umat.
Penutup
Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang menyeimbangkan antara iman dan kekayaan. Ia menunjukkan bahwa menjadi kaya tidak bertentangan dengan menjadi saleh — asalkan kekayaan itu dikelola untuk kepentingan umat.
Kisahnya menjadi cermin bagi setiap Muslim modern yang ingin sukses secara materi tanpa melupakan nilai spiritual. Ia adalah bukti nyata bahwa “orang kaya pun bisa masuk surga,” jika hartanya dipakai di jalan Allah.
